|
BAB XXIII
BODHISATVA BAISAJARAGA
Pada saat itu Sang Bodhisatva Naksatraragasankusumitabhigna menyapa
Sang Buddha seraya berkata : "Yang Maha Agung ! Mengapa Sang
Bodhisatva Baisajaraga berkelana didalam dunia saha ini ? Yang Maha
Agung ! Alangkah banyaknya penderitaan yang jumlahnya sampai beratus
ribu koti nayuta yang harus ditanggung oleh Sang Baisajaraga ! Akan
menjadi sempurnalah kiranya, duhai Yang Maha Agung ! Seandainya
Engkau menjelaskannya meskipun hanya sekulumit saja sehingga para
dewa. Mahluk-mahluk naga, yaksa, gandharva, asura, garuda, kimnara,
mahoraga, manusia dan bukan manusia serta para Bodhisatva yang telah
datang dari negeri-negeri lain, akan bergembira semuanya setelah
mendengarnya."
Kemudian
Sang Buddha menyapa Sang Bodhisatva Naksatraragasankusumitabhigna
: "Dahulu kala, pada ribuan kalpa yang tak terhitung yang jumlahnya
sebanyak pasir-pasir dari sungai Gangga yang telah lalu, adalah
seorang Buddha yang bergelar Kandravimala- suryaprabasasri. Yang
Maha Mulia, Maha Bijaksana, Yang Telah Mencapai Penerangan Agung,
Yang Telah Mencapai Kesempurnaan, Maha Tahu Tengtang Dunia, Pemimpin
Yang Tiada Tara, Maha Pengatur, Guru dari para dewa dan manusia,
Sang Buddha, Yang Maha Agung. Buddha itu memiliki 80 koti Bodhisatva-Mahasatva
agung dan sekelompok besar para sravaka yang jumlahnya seperti pasir-pasir
dari 72 sungai Gangga. Masa hidup Buddha itu ialah 42 ribu kalpa
dan masa hidup dari para Bodhisatva-nya juga selama itu.
Didalam
kawasannya tidak terdapat seorang wanitapun, neraka, iblis-iblis
lapar, hewan, asura dan kesengsaraan. Tanahnya datar seperti telapak
tangan manusia dan terbuat dari lapis lazuli, terhias dengan pepohonan
permata, terselimuti oleh tirai-tirai manikam, digantungi dengan
bendera-bendera bebungaan permata, pot-pot kembang dan anglo-anglo
bertatah permata terlihat di seluruh pelosok negeri itu.
Terdapat
juga teras-teras yang terbuat dari 7 benda berharga dengan pepohonan
disetiap terasnya dimana pohon itu berjarak satu jangkauan anak
panah penuh dari teras tadi.
Dibawah
pepohonan permata ini duduklah para Bodhisatva dan sravaka. Diatas
masing-masing mimbar ini terdapat seratus koti para dewa yang sedang
mengalunkan dendang dan lagu pujian kasurgan untuk memuliakan Buddha
itu. Kemudian Buddha itu mengkhotbahkan Hukum Sutra Bunga Teratai
kepada Bodhisatva Sarvasattvapriyadarsana dan seluruh para Bodhisatva
serta kelompok para sravaka.
Sang
Bodhisatva Kecantikan ini telah menikmati khotbah tentang penderitaan
dan didalam Hukum dari Sang Buddha Kandravimilasuryaprabasasri,
ia telah membuat kemajuan dengan penuh semangat dan dengan sepenuh
hatinya ia mengembara kesana kemari untuk mencari Sang Buddha selama
12 ribu tahun penuh, dimana sesudah itu ia mencapai tingkat samadhi
Sarvarupasandarsana. Setelah mencapai perenungan ini hatinya menjadi
sangat bergembira dan membayangkan demikian :"Hasil perenunganku
sampai tingkat Samadhi Sarvarupasandarsana ini semata-mata hanyalah
berkat kekuatan yang timbul dari mendengarkan Hukum Sutra Bunga
Teratai. Oleh karenanya, biarlah aku sekarang memuliakan Sang Buddha
Kandravimalasurya Prabasasri dan Hukum Sutra Bunga Teratai ini."
Tidak lama setelah ia memasuki perenungan itu, kemudian dari langit
hujan bertaburan bunga-bunga mandarava, bunga-bunga maha-mandarava
dan 5 macam serbuk kayu cendana yang keras dan hitam yang semuanya
ini memenuhi angkasa dan turun sepeti segumpal awan. Juga ditaburkan
dedupaan dari kayu cendana Urugasara yang 6 karsha dari dedupaan
ini berharga satu dunia saha. Semuanya ini ia lakukan demi untuk
memuliakan Sang Buddha itu.
"Setelah
membuat persembahan ini,kemudian ia bangkit dari perenungan itu
dan berpikir dalam hatinya :"Meskipun dengan kekuatan ghaibku
aku telah memuliakan Sang Buddha, tetapi hal itu tidaklah sebaik
membuat persembahan dengan tubuhku sendiri."
Kemudian
ia dahar beberapa macam dedupaan, yaitu dedupaan dari kayu cendana,
kunduruka, turushka, prikka, kayu gaharu dan damar, serta meminum
pula sari minyak bunga cempaka dan bunga-bunga lainnya. Sesudah
1200 tahun penuh, kemudian ia melumasi tubuhnya dengan salep-salep
harum, dan dihadapan Sang Buddha Kandravimalasuryaprabasasri ia
mengenakan pakaian kasurgan yang indah serta mandi didalam minyak
wangi dan dengan seluruh daya ghaibnya, ia membakar sekujur tubuhnya
sendiri. Kilau sinarnya menerangi seluruh alam semesta yang jumlahnya
seperti pasir-pasir dari 80 koti sungai-sungai Gangga, dan para
Buddhanya secara serempak memujinya seraya berkata : "Bagus,
bagus ! Putera yang baik ! Inilah semangat yang nyata yang disebut
Penghormatan Hukum Yang Benar bagi Sang Tathagata. Segala persembahan
yang berupa bebungaan, wewangian, kalung-kalung, dedupaan, serbuk
cendana, salep-salep obat, bendera dan tirai-tirai sutera surga
serta kayu cendana Uragasara, semuanya tidak dapat mengimbanginya.
Begitu pula persembahan-persembahan yang berupa derma, negeri, kota,
istri dan anak, semua persembahan-persembahan ini tidak dapat menyamainya.
Wahai
puteraKu yang baik ! Inilah yang disebut persembahan yang paling
agung, persembahan yang maha luhur dan mulia, karena inilah persembahan
hukum bagi para Tathagata." Sesudah mengucapkan pernyataan
ini semuanya diam kembali.
"Tubuhnya
menyala terus selama 1200 tahun dan sesudah itu mokshalah tubuhnya."
"Setelah
Sang Bodhisatva Sarvasattvapriyadarsana selesai membuat persembahan
Hukum semacam itu, maka disaat kemokshaannya ia terlahir kembali
dalam kawasan Sang Buddha Kandravimalasuryaprabasari yang secara
tiba-tiba ia terjema dalam keadaan duduk bersila di kediaman Sang
Raja Vimaladatta yang menjadi ayahnya dimana ia segera berkata dalam
syair "
"Ketahuilah,
wahai raja agung !
Pada saat berada di tempat kediaman lain,
Dengan segera aku mencapai tingkat Samadhi
Sarvarupasandarsana,
Dan dengan tulus ikhlas melaksanakan darma dari semangat yang agung,
Dengan cara mengorbankan tubuh yang aku cintai."
"Setelah
mengucapkan syair ini, kemudian ia berkata kepada ayahnya :"Sang
Buddha Kandravimalasuryaprabasasri masih tetap ada seperti dahulu
kala. Sesudah membuat penghormatan utama kepada Buddha itu, aku
mencapai dharani dari Menafsirkan Ucapan-ucapan semua mahluk dan
lebih-lebih lagi aku telah mendengar Sutra Bunga Hukum ini sebanyak
800 ribu koti nayuta, kankara, bimbara, dan akshobya syair. Wahai
Raja Agung ! Aku harus kembali sekarang dan memuliakan Buddha itu."
Sesudah
mengucapkan ini, kemudian ia mengambil tempat duduknya diatas menara
7 benda berharga dan membumbung ke angkasa setinggi 7 pohon tala.
Ketika ia sampai pada Buddha itu, kemudian ia bersujud dikakinya
serta mengatupkan sepuluh jarinya dan memuja Buddha itu dalam syair
:
"Raut
wajah yang sangat mengagumkan,
Cemerlangnya menerangi alam semesta,
Dahulu kala aku memuliakanmu,
Sekarang aku kembali lagi untuk memandangmu."
"Setelah
Sang Bodhisatva Sarvasattvapriyadarsana selesai mengucapkan syair
ini, kemudian berkatalah ia kepada Buddha itu :"Yang Maha Agung
! Yang dihormat dunia masih tetap berada didalam dunia."
"Kemudian
Sang Buddha Kandravimalasuryaprabasasri menyapa Sang Bodhisatva
Sarvasattvapriyadarsana :"PuteraKu yang baik ! Saat nirvanaKu
telah tiba. Saat kemokshaanKu telah datang. Engkau aturlah tempat
tidurKu. Malam nanti Aku akan memasuki parinirvana." Kembali
Beliau mengutus Sang Bodhisatva Sarvasattvapriyadarsana :"PuteraKu
yang baik ! Aku percayakan Hukum Buddha kepadamu dan Aku serahkan
pula kepadamu seluruh Bodhisatva-Bodhisatva dan pengikut-pengikut
utamaKu, Hukum Penerangan AgungKu dan jutaan duniaKu yang terbuat
dari 7 benda berharga bersama dengan pepohonan permata dan menara
manikamnya serta seluruh pelayan-pelayanKu. Aku percaya juga kepadamu
segala peninggalan-peninggalan relik apapun yang ada sesudah kemokshaanKu.
Biarlah mereka menyebar dan memuliakannya sampai jauh dan biarlah
ribuan stupa didirikan pula."
Setelah
Sang Buddha Kandravimalasuryaprabasasri selesai menitahkan Sang
Bodhisatva Sarvasattvapriyadarsana sedemikian itu, kemudian dipenghujung
malam masuklah dia kedalam nirvana.
"Ketika
Sang Bodhisatva Sarvasattvapriyadarsana melihat bahwa Sang Buddha
itu telah moksha, hatinya menjadi sangat berkabung, sangat terharu
dan berduka-cita seta menyesalinya. Kemudian ia menumpuk bahan bakar
dari kayu cendana Uragasara dan setelah menghormati jasad Buddha
itu lalu ia membakarnya.
Sesudah
sang api padam, ia mengumpulkan abu-abu peninggalannya dan membuat
84 ribu mangkok-mangkok indah serta mendirikan 84 ribu stupa setinggi
3 lipatan dunia yang dihias dengan menara panji-panji,digantungi
dengan bendera dan tirai-tirai serta genta-genta indah. Kemudian
Sang Bodhisatva Sarvasattvapriyadarsana membayangkan lagi didalam
hatinya : "Meskipun aku telah melakukan penghormatan seperti
ini, namun hatiku belumlah merasa puas. Baiklah aku tetap memuliakan
peninggalan-peninggalanNya lebih jauh lagi."
Kemudian
ia menyapa para Bodhisatva, pengikut-pengikut utama, begitu pula
para dewa dan para naga, para yaksha dan seluruh kelompok seraya
berkata :"Kalian perhatikanlah dengan sepenuh hati karena sekarang
ini aku akan memuliakan peninggalan Sang Buddha Kandravimalasuryaprabasasri."
Setelah berkata demikian ini, kemudian didepan 84 ribu stupa ia
membakar tangannya bersama dengan ratusan tanda-tandanya yang indah
dan selama 72 ribu tahun ia memuliakannya dan mengasuh sekelompok
para pencahari kesravakaan yang tak terhitung jumlahnya serta meneguhkan
iman dari ribuan asamkhyeya orang agar mereka itu mencapai Penerangan
Agung dan membuat semuanya tinggal didalam perenungan dari Samadhi
Sasvarupasandarsana.
"Kemudian
seluruh para Bodhisatva, para dewa, manusia, asura dan lain-lainnya,
demi melihat dia tanpa tangan lagi, semuanya sangat berduka, bersedih
dan bersusah hati seraya berkata :" Sang Bodhisatva Sarvasattvapriyadarsana
ini adalah benar-benar guru dan pembimbing kita, tetapi sekarang
tangannya telah musnah terbakar dan jasmaninyapun telah menjadi
rusak pula." Kemudian Sang Bodhisatva Sarvasattvapriyadarsana
berprasetya didalam persidangan agung itu:" Setelah mengorbankan
kedua belah tanganku, maka aku akan benar-benar memperoleh tubuh
emas seorang Buddha. Jika keyakinan ini benar adanya dan tidak meleset,
maka baiklah kedua belah lenganku ini kembali sempurna seperti sediakala."
Begitu ia selesai mengucapkan prasetya ini, kedua belah lengannya
menjadi sempurna kembali dengan sendirinya, dan hal ini membuat
semua orang yang menyadari keistimewaan dari kebijaksanaan dan keluhuran
yang tiada cela dari sang Bodhisatva ini. Pada saat itu juga jutaan
dunia bergoncangan dalam 6 cara dan sang langitpun menghujani aneka
ragam bebungaan, para dewa serta para manusia semuanya memperoleh
apa yang belum pernah mereka dapatkan."
Kemudian
Sang Buddha menyapa Sang Bodhisatva Naksatraragasankusumitabhigna
:" Pendapat apakah yang ada dalam pikiranmu, adakah Sang Bodhisatva
Sarvasattvapriyadarsana itu orang lain adanya ? Sesungguhnyalah
dia itu Sang Bodhisatva Baisajaraga. Persembahan dan pengorbanan
dirinya sangat begitu tak terbatas sampai ratusan ribu koti nayuta
seperti ini.
Wahai Naksatraragasankusumitabhigna ! Jika terdapat seseorang yang
dengan sepenuh hatinya berkehendak dan bertujuan untuk mencapai
Penerangan Agung dan ia mampu membakar jari-jari tangannya atau
bahkan ibu jari kakinya untuk memuliakan stupa Buddha, maka ia akan
melampaui dia yang memuliakan stupa dengan negeri-negeri, kota,
istri dan anak-anak, serta jutaan dunianya bersama seluruh gunung-gunung,
hutan-hutan, sungai, kolam dan segala sesuatunya yang sangat berharga.
"Lagi,
jika terdapat seseorang yang mempersembahkan jutaan dunia yang penuh
dengan 7 benda-benda berharga untuk memuliakan para Buddha, Bodhisatva-Bodhisatva
agung, pratyekabuddha dan para arhat, maka pahala yang diperoleh
orang ini tidaklah mampu mengimbangi kebahagiaan dari mereka yang
menerima dan memelihara meskipun hanya 4 untai dari sebuah bait
syair Sutra Bunga Teratai ini.
"Wahai
Raja Naksatraragasankusumitabhigna ! Bayangkanlah saja, seandainya
diantara saluran-saluran air, sungai-sungai kecil, sungai, hulu
dan semua air-air yang lain, maka lautlah yang paling luas. Begitu
jugalah dengan Hukum Sutra Bunga Teratai ini. Diantara segala sutra
yang telah dikhobahkan oleh para Tathagata, Hukum Sutra Bunga Teratai
inilah yang Paling dalam dan yang paling agung. Dan demikian juga
Diantara semua pegunungan-pegunungan yaitu pegunungan bumi, Gunung-gunung
Hitam, Gunung-gunung Lingkaran Besi Kecil, Gunung-gunung Lingkaran
Besi Besar, dan 10 pegunungan indah serta pegunungan-pegunungan
lainnya, maka Gunung Sumerulah yang paling tinggi. Demikian jugalah
dengan Sutra Bunga Hukum ini. Diantara segala sutra-sutra, Hukum
Sutra Bunga Teratai inilah yang tertinggi. Begitu juga diantara
semua bintang-bintang, Rembulan yang megah sajalah yang paling besar
dan demikian pulalah dengan Hukum Sutra Teratai ini.
Diantara
ratusan ribu koti dari segala jenis sutra hukum, maka Sutra Bunga
Teratai inilah yang paling cemerlang. Lebih jauh lagi seperti halnya
sang Surya jelita yang mampu menyirnakan semua kegelapan, maka begitu
jugalah Hukum Sutra Bunga Teratai ini yang mampu pula memusnahkan
segala kegelapan yang nista. Lagi, diantara semua raja-raja kecil,
maka raja pemutar roda sucilah yang paling agung dan demikian pulalah
Hukum Sutra Bunga Teratai ini yang diantara segala sutra merupakan
Sutra yang termulia. Lagi, seperti halnya Sang Sakra yang maha mulia
diantara dewa dari ke 33 surga, maka demikian jugalah dengan Sutra
ini yang merupakan raja dari segala sutra. Lagi, seperti halnya
Raja Surga Brahma Sahampati yang merupakan bapak dari seluruh orang
arif dan bijak, bapak dari mereka yang masih berada dibawah asuhan
maupun yang tidak lagi dibawah asuhan dan bapak dari mereka yang
berjiwa Bodhisatva. Lagi seperti halnya dari antara orang awam,
srotapanna, sakrdagamin, anagamin, dan arhat, maka pratyekabuddhalah
yang paling terkemuka. Begitu jugalah dengan Sutra ini yang diantara
segala sutra yang telah dikhotbahkan oleh para Tathagata, Bodhisatva
maupun sravaka, merupakan Sutra yang paling utama.Begitu pulalah
halnya dengan mereka yang dapat menerima dan memelihara Sutra ini
maka diantara seluruh mahluk hidup, merekalah yang paling mulia.
Diantara
seluruh sravaka dan pratyekabuddha, Bodhisat-valah yang paling terkemuka.
Begitu jugalah dengan Sutra ini yang diantara segala sutra merupakan
Sutra yang tertinggi. Seperti Buddha yang merajai segala hukum,
maka demikian jugalah dengan Sutra ini yang merajai segala sutra.
"Wahai Naksatraragasankusumitabhigna ! Sutra ini adalah Sutra
yang mampu menyelamatkan semua umat.Sutra ini mampu membebaskan
seluruh mahluk dari duka dan nestapa. Sutra ini mampu menyelamatkan
para umat dan mampu memenuhi segala keinginan mereka. Seperti sebuah
kolam yang jernih dan dingin yang mampu memuaskan mereka yang kehausan,
seperti orang kedinginan yang mendapatkan perapian, seperti orang
telanjang yang mendapatkan pakaian, seperti karapan rombongan pedagang
yang mendapatkan pimpinan, seperti seorang anak yang mendapatkan
ibunya, seperti seorang yang ingin menyeberang mendapatkan perahu,
seperti seorang sakit yang mendapatkan tabib, seperti seorang miskin
yang menemukan permata, seperti orang didalam kegelapan yang mendapatkan
pelita, seperti rakyat yang mendapatkan raja, seperti seorang pedagang
pangadu untung yang mendapatkan kesempatan, seperti obor yang menyirnakan
kegelapan, maka demikian jugalah halnya dengan Hukum Sutra Bunga
Teratai ini yang mampu membebaskan semua umat dari segala kesengsaraan
serta penderitaan dan mampu
pula melepaskan ikatan-ikatan dari kehidupan yang tidak kekal.
"Jika
terdapat seseorang yang setelah mendengar Hukum Sutra Bunga Teratai
ini kemudian menyalinnya atau membuat orang lain menyalinnya, maka
batas jumlah pahala yang diperolehnya tidak lagi dapat diperkirakan
meskipun dengan kebijaksanaan Buddha sekalipun.Jika seseorang menyalin
Sutra ini dan memuliakannya, dengan bebungaan, wewangian, kalung-kalung,
dedupaan, bedak-bedak cendana, salep-salep obat, bendera-bendera,
tirai-tirai, pakaian dan bermacam-macam lampu, lampu susu, lampu
minyak, lampu minyak wangi, lampu minyak bunga cempaka, lampu minyak
bunga samana, lampu minyak bunga patala dan lampu minyak bunga varshika
serta lampu minyak bunga navamalika, maka pahala yang diperolehnya
tiada dapat dilukiskan.
"Wahai
Naksatraragasankusumitabhigna ! Jika terdapat seseorang yang mendengar
bab dari "Darma Yang Terdahulu Dari Sang Bodhisatva Baisajaraga"
itu, iapun akan memperoleh pahala yang tak terhingga dan tak terbatas.Jika
terdapat seorang wanita yang mendengar hal dari Darma Yang Terdahulu
Dari Sang Bodhisatva Baisajaraga dan ia mampu menerima dan memeliharanya,
maka sesudah tubuh kewanitaannya berakhir ia tidak lagi akan menerima
tubuh wanita itu lagi.Jika sesudah kemokshaan Sang Buddha nanti
terdapat seorang wanita yang didalam 500 tahun yang terakhir mendengar
Sutra ini dan bertindak sesuai dengan ajarannya maka di ujung kehidupan
ini ia akan menuju Dunia Bahagia dimana Sang Buddha Amitayus bersemayam
dikelilingi oleh para Bodhisatva agungnya. Ia akan terlahir disana
ditengah-tengah setangkai bunga teratai yang berada diatas tahta
permata.
Wanita yang sudah menjelma menjadi laki-laki itu tidak Akan pernah
tergoda lagi oleh kemarahan ataupun tergoda oleh kesombongan, dengki
ataupun ketidak sucian, tetapi ia akan memperoleh kekuatan ghaib
dan kepastian untuk tidak terlahir kembali.
Setelah
memperoleh penetapan ini, indera matanya akan menjadi sempurna dan
dengan kesempurnaan indera matanya ini ia akan melihat 7 juta dan
2 ribu koti nayuta dari para Buddha Tathagata yang jumlahnya sama
dengan pasir-pasir sungai Gangga ketika para Buddha ini memujinya
dengan serempak dari kejauhan seraya bersabda : "Bagus sekali,
bagus sekali ! Wahai puteraKu yang baik ! Engkau telah mampu menerima
dan memelihara, membaca dan menghafalkan serta merenungkan Sutra
ini didalam Hukum Sang Sakyamuni Buddha dan mengajarkannya pula
kepada orang lain. Karunia yang telah engkau peroleh adalah sangat
tak terhingga dan tak terbatas dimana sang api tidak mampu membakarnya
serta sang airpun tidak mampu menghanyutkannya. Pahalamu tiada dapat
lagi diutarakan oleh seribu Buddha. Sekarang engkau telah mampu
memusnahkan mara-mara jahat, menyingkirkan kekuatan-kekuatan ikatan
ketidak-tahuan dan menghancurkan musuh-musuh yang lain.Wahai putera
yang baik ! Ratusan ribu para Buddha dengan segala kekuatan ghaibnya
akan selalu bersama-sama menjaga dan melindungimu sehingga tiada
satupun Dari para dewa dan manusia diseluruh dunia ini yang dapat
menyamaimu kecuali Sang Tathagata sendiri.Kebijaksanaan dan meditasi
dari para sravaka, pratye-Kabuddha atau bahkan para Bodhisatva sendiri,
semua-Nya tidak akan dapat mengimbangimu.Wahai Naksatraragasankusumitabhigna
! Sedemikianlah
daya pahala dan kebijaksanaan yang telah diperoleh sang Bodhisatva
ini.
"Jika
terdapat seseorang yang ketika mendengar hal dari Darma Yang Terdahulu
Dari Sang Bodhisatva Baisajaraga ini kemudian ia mampu menerima
dan memuliakannya dengan penuh kegembiraan, maka selama hidupnya
yang sekarang ini ia akan selalu menebarkan bau nafas yang harumnya
seperti bunga teratai biru dan dari seluruh pori-pori tubuhnya akan
memancarkan harumnya kayu cendana kepala lembu, serta pahalanya
akan menjadi seperti tersebut diatas tadi.Oleh karenanya wahai Naksatraraga,
Aku percayakan Kepadamu bab tentang Darma Yang Terdahulu Dari Sang
Bodhisatva Baisajaraga itu. Didalam 500 tahun yang terakhir sesudah
kemokshaanKu nanti, maklumkanlah dan siarkanlah bab itu didalam
Jambudvipa, karena kalau tidak, bab itu akan hilang sehingga sang
mara, Yang Maha Jahat, beserta manusia-manusia maranya, para dewa,
naga, yaksha, kumbhandas dan lain-lainnya akan memperoleh kesempatannya.
Wahai
Sang Naksatraraga ! Peliharalah dan lindungilah Sutra ini dengan
kekuatan-kekuatan ghaibmu. Karena Sutra ini merupakan obat yang
manjur bagi penyakit orang-orang Jambudvipa. Jika seseorang jatuh
sakit dan ia mendengar Sutra ini maka sakitnya akan segera hilang
dan iapun tidak akan menjadi tua dan tidak pula akan mati. Wahai
Naksatraraga ! Jika engkau melihat seseorang menerima dan memelihara
Sutra ini, maka engkau harus menaburkan bunga-bunga teratai biru
yang penuh dengan serbuk-serbuk kayu cendana kepadanya, dan sesudah
menaburinya berpikirlah demikian. "Orang ini akan segera menerima
segebung rerumputan dan akan segera mengambil tempat duduknya diatas
tempat kebijaksanaan. Ia akan mencerai-beraikan kelompok mara dan
miniup nafiri Hukum serta menabuh genderang Hukum Agung. Ia akan
menyelamatkan seluruh mahluk hidup dari samodra ketuaan, penyakit
dan kematian." Oleh karena itu, siapapun yang mencari Jalan
keBuddhaan ketika melihat seseorang yang menerima dan memelihara
Sutra ini, maka ia harus menaruh rasa hormat kepadanya."
Pada
saat bab dari Darma Yang Terdahulu Dari Sang Bodhisatva Baisajaraga
ini sedang dikhotbahkan, 84 ribu Bodhisatva memperoleh dharani dari
Menafsirkan Ucapan Segala Mahluk. Sang Tathagata Prabhutaratna yang
berada didalam stupa 7 Benda Berharga memuji Sang Bodhisatva Naksatraragasankusumitabhigna
: "Bagus sekali, bagus sekali, wahai Naksatraragasan-kusumitabhigna
! Engkau telah memperoleh pahala-pahala yang tak dapat dilukiskan
lagi karena engkau telah dapat menanyakan hal-hal yang seperti ini
kepada Sang Sakyamuni Buddha dan engkau telah benar-benar Menyelamatkan
semua umat."
|